Kesenjangan
ekonomi, kemiskinan, dan adanya ketimpangan bagi kelompok yang memiliki
pendapatan tinggi dengan kelompok yang memiliki pendapatan rendah merupakan hal
yang umum ditemukan di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Kemiskinan merupakan
masalah yang kerap dihadapi di Indonesia dari tahun ke tahun.
Kemiskinan itu sendiri adalah tidak berharta benda. Miskin juga berarti tidak mampu mengimbangi tingkat kebutuhan hidup standard dan tingkat penghasilan dan ekonominya rendah. Secara singkat kemiskinan dapat didefenisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standard kehidupan yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Tingkat kemiskinan
di tahun 2018 ini merupakan tingkat kemiskinan dengan presentase terendah dari
tahun, tahun sebelumnya. Dan pemerintah terus mengupayakan untuk menaikan
perekonomian Negara agar tingkas kemiskinan terus berkurang.
“September 2017 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar
26,58 juta orang atau 10,12%. Turun 0,52% jika dibandingkan pada bulan Maret
2017, yaitu sebesar 27,77 juta orang. Juga berkurang dibanding September 2015
yang mencapai 11,13% dan 10,70% pada September 2016,” ungkap Presiden Jokowi Dodo
Dari ungkapan
tersebut dapat diketahui bahwa bulan januari lalu, angka kemiskinan perbulan
sebtember 2017 angka kemiskinan di Indonesia adalah 10,12% menurun 1,01% dari September
2016. Data tersebut dihitung oleh BPS (Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik) Akan tetapi,
jika dihitung berdasarkan standar Bank Dunia, jumlah orang miskin di Indonesia
diperkirakan lebih banyak dari yang dirilis BPS. Pasalnya, dalam menghitung
angka kemiskinan, BPS menggunakan garis kemiskinan sebesar Rp 387.160 per
kapita per bulan.
Sementara itu, garis kemiskinan Bank Dunia adalah sebesar
USD 1,9 per hari, atau setara Rp 775.200 per bulan (kurs 13.600). Direktur
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati
mengungkapan, jika diukur dengan standar Bank Dunia, maka angka kemiskinan bisa
lebih dari dua kali lipat.
Penyebab kemiskinan
itu sendiri adalah:
- Policy induces processes: proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan (induced of policy) diantaranya adalah kebijakan antikemiskinan, tetapi realitanya justru melestarikan.
- Socio-economic dualism: negara ekskoloni mengalami kemiskinan karena pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani skala besar dan berorientasi ekspor.
- Population growth: perspektif yang didasari pada teori Malthus bahwa pertambahan penduduk seperti deret ukur sedang pertambahan pangan seperti deret hitung.
- Recources management and the environment: adanya unsur mismanagement sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan menurunkan produktivitas.
- Natural cycles and processes: kemiskinan terjadi karena siklus alam. Misalnya tinggal di lahan kritis, di mana lahan ini jika turun hujan akan terjadi banjir tetapi jika musim kemarau akan kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.
- The marginalization of woman: peminggiran kaum perempuan karena perempuan masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang diberikan lebih rendah dari laki-laki.
- Cultural and ethnic factors: bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan. Misalnya, pola hidup konsumtif pada petani dan nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat atau keagamaan.
- Explotative intermediation: keberadaan penolong yang menjadi penodong, seperti rentenir (lintah darat).
Mengatasi kemiskinan bukanlah hal yang mudah,
maka dari itu pemerintah kerap merevisi kebijakan kebijkan yang sekiranya mampu
mengatasi tingkat kemiskinan, diantaranya:
- Menggerakan
sektor real melalui sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan
program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM). Program ini sangat efektif dalam mengatasi amsalah
kemiskinan di Indonesia.
- Membuka
lapangan kerja yang seluas-luasnya untuk mengurangi jumlah pengangguran,
sebagai salah satu faktor penyebab kemiskinan di Indonesia.
- Menghapuskan
tindakan korupsi yang membuat berbagai layanan untuk masyarakat terhambat
sehingga membuat masyarakat tidak bisa menerima haknya sebagai warna
negara. Akibatnya, kemiskinan di Indonesia semakin
berkembang.
- Meningkatkan
program zakat yang akan membantu menumbuhkan pemerataan kesejahteraan
sekaligus mengatasi kemiskinan di Indonesia di dalam
masyarakat. Sehingga dapat mencegah kesenjangan sosial dan tingkat
kekayaan.
- Menjaga
kestabilan harga kebutuhan pokok agar masyarakat memiliki kemampuan atau
memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
- Menyediakan
beasiswa bagi siswa miskin pada semua jenjang pendidikan, mulai dari
SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga perguruan tinggi. Juga menjadi salah satu
solusi mengatasi kemiskinan di Indonesia.
- Memberikan
pelayanan rujukan bagi keluarga miskin secara gratis, tanpa biaya apa pun.
Cara mengatasi kemiskinan di Indonesia di bidang
kesehatan ini berupa adanya kartu jamkesmas.
- Mendirikan
Balai Latihan Kerja (BLK) untuk masyarakat tidak mampu agar memiliki bekal
dalam terjun ke dunia kerja. Cara mengatasi kemiskinan di Indoensia ini
sangat ampuh diberdayakan di seluruh pelosok Indonesia.
- Memberikan
subsidi atau bantuan kepada masyarakat tidak mampu, seperti Bantuan
Langsung Tunai (BLT), subsidi BBM, pengobatan gratis, dan sebagainya.
Namun, dalam pemberian bantuan ini sebaiknya memperhatikan kondisi
masyarakat dan diberikan secara bijak. Jangan sampai cara mengatasi kemiskinan
di Indonesia ini malah akan membuat masyarakat menjadi malas
bekerja. Dan menggantungkan diri pada bantuan pemerintah tersebut.
- Memberikan
dana alokasi umum (DAU) agar pemerintah daerah dapat membantu
mengentaskan kemiskinan di Indonesia secara umum.
- Melakukan
reformasi tanah untuk rakyat dengan menggalakkan program transmigrasi.
Agar masyarakat memiliki tanah yang diolah secara mandiri untuk
meningkatkan perekonomian keluarga.
Jadi karena pemerintah sudah melakukan banyak
upaya untuk mengatasi kemiskinan yang terjadi, ada baiknya sebagai warga tidak
bergantumg sepenuhnya terhadap pemerintah, melainkan membantu pemerintah
mewujudkan upaya-upaya yang sedang dijalani. Sebagai contoh, mungkin dengan SDA
yang sangat banyak di Indonesi bisa digunakan untuk mata pencaharian, bekerja
dengan giat, membeli barang buatan dalam negeri untuk membantu perekonomian di
Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar