BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masih banyak sekali suku-suku dan desa-desa di Indonesia yang belum
terjamah pemerintah Indonesia. Kehidupan yang jauh dari kata sejahtera tidak
menjadi halangan para penduduk pelosok negeri untuk tetap bertahan hidup. Dengan keterbatasan dan kesulitan yang mereka
alami, tidak menjadi penghambat mereka bisa bersyukur dan mengasihi satu sama
lain. Saling menyayangi dan hidup rukun dengan sesama.
B. Tinjauan Pustaka
1. Manusia
Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bias hidup sendiri dan saling
bergantung satu sama lain. Baik dengan alam maupun lingkungan sekitar. Sifat dan
perilaku manusia timbul karena adanya dorongan atau factor dari lingkungan
mereka sendiri. Mungkin pada dasarnya yang membentuk kepribadian diri masing-masing
adalah lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, teman, atau keadaan sekitar,
jadi karena itu menjadi alasan manusia memiliki kepribadian yanbg berbeda dan
sangat saling bergantung satu sama lain.
2. Cinta Kasih
Dalam hidupnya manusia juga membutuhkan cinta dan kasih sayang dalam
hidupnya. Bias dibayangkan bagaimana jika tidak ada cinta dan kasih saying dalam
kehidupan manusa. Cinta dan kasih saying tidak hanya didapatkan dari lawan
jenis atau pasangan saja. Tapi dari Tuhan, orang tua, saudara, guru sahabat
serta lainnya.
3. Penderitaan
Dalam hidup atau saat memberikan cinta kasih kepada orang yang disayang
pasti aka nada pegorbanan. Tidak hanya cinta dan kasih sayang yang manusia alami
dalam hidupnya, tetapi dalam hidup pasti ada sebuah penderitaan yang dirasakan.
Baik itu faktor keluarga, ekonomi, kesenjangan sosial ataupun tekanan dari
sekitar.
BAB II
PEMBAHASAN
Keluarga merupakan
faktor terpenting dalam kehidupan manusia, karena keluarga adalah orang yang
akan selalu ada untuk manusia itu sendiri dan rela mengorbankan apapun untuk
kebahagian yang ingin dicapai keluarga.
Seperti sebuah
keluarga di suatu pedalaman Indonesia ini. Hidup jauh dari keramaian kota tapi
tidak mematahkan semangat hidup mereka. Mereka saling mengasihi satu sama lain.
Tipikal keluarga pada umumnya. sang ayah bekerja, rumah dan anak diurusi oleh
sang ibu, serta anak sekolah dan bermain diluar hinga larut.
Lauk-pauk merupakan
hal yang mewah pada desa tersebut. Sehari hari penduduk desa bisa hanya makan
singkong dan pisang rebus saja. Jika ada acara khusus atau ada uang berlebih
maka lauk-pauk menjadi menu utama, atau penduduk tersebut akan memotong
binatang peliharaannya. Dengan keadaan keluarga tersebut yang pas-pasan mereka
tetap mengasihi satu sama lain. Mengundang sang
guru yang mengajar anaknya untuk makan Bersama keluarga tersebut menjadi rutinitas
mingguan. Dengan keterbatasan dan kekurangan, keluarga tersebut masi bisa berbagi
dengan mengundang guru dari sang anak untuk makan bersama sebagai tanda terima
kasih telah mengajar disana. Dalam kekurangan dan keterbatasan keluarga ini
masi bisa belajar untuk mensyukuri hidup.
Melihat lebih
dalam di pedalaman Indonesia, kelarga tersebut masih sangat beruntung. Karena
masih ada pasokan listrik, sekolah, puskesmas. Tidak seperti sebuah desa di
pedalaman papua, yaitu desa Ugimba. Meskipun telah ditetapkan sebagai desa
pariwisata oleh metri pariwisata terlebih dahulu. Tapi keadaan desa ini masih
menyedihkan, jangankan sinyal ponsel, listrik, rumah sakit, bahkan jalan
beraspal pun belum ada. Meskipun ada sekolah, tetapi hanya mengajarkan Bahasa Indonesia
dan juga calistung (membaca, menulis menghitung).
Sungguh rasanya
seperti desa terisolasi. Jika ada seseorang yang sakit, maka penduduk desa
tersebut harus berjalan sejauh 20km dari desa tersebut dikarenakan klinik desa
tersebut sudah tidak berjalan, tidak ada dokter, kaca pecah. Jangan memikirkan penduduk
desa tersebut memakai koteka, karena mereka sudah memakai baju yang didapat
dari kota terdekat dari desa itu. Itupin satu baju saja sudah cukup.
Sedangkan kehidupan
mereka sehari-hari. Para wanita di desa Ugimba sehari-hari bekerja mengurus lading
dan menanam sayur mayur, seperti kol, kedelai dan baya. Mereka pun mengurus
makanan untuk keluarga termasuk mengambil air kesungai.
Sedangkan para
pria ikut bantu-bantu membereskan tanah untuk bercocok tanam. Kemudian mereka
pergi berburu ke hutan untuk makan. Berberu hewan, seperti kuskus dan lainnya.
Dengan tidak
adanya listrik di desa Ugimba, malampun sangat gelap dan tidak ada yang beani
keluar saat malam. tanpa listrik, jalan beraspal, masih seperti kehidupan yang primitif dijaman yang sudah maju seperti sekarang ini.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kehidupan orang pedalaman di Indonesia masih sangat sangat sederhana. Tidak
ada jangkauan internet yang saat ini sangat diperlukan dimanapun, tidak ada jalan,
sekolah terbatas, klinik jauh.
Tapi hal-hal tersebut tidak menjadikan itu halangan untuk saling menyayangi,
mengayomi dan berbagi terhadap sesame. Mereka mengajarkan kita untuk bahagia dan
bersyukur dengan kesederhanaan yang kita miliki.
B. SARAN
Pedalaman Indonesia masih banyak yang belum terjamah pemerintah. Sebaiknya
pemerintah juga lebih memerhatikan orang orang di pedalaman. Tidak hanya di pusat
kota saja. Tetapi seperti suku baduy, orang orang desa Ugimba. Merekapun tetap merupakan
rakyat Indonesia jadi lebih baik jika
mereka mendapat keadilan yang sama dengan orang Indonesia yang lain.
Pemanfaatan desa Ugimba sebagai tempat pariwisata sebaiknya lebih
deitingkatkan, karena jika masayarakat banyak tahu tentang desa tersebut, kemungkinan
banyak masyarakat yang berdatangan dan bisa jadi pemerintah lebih peduli dengan
keadaan desa tersebut yang jauh dari kata sejahtera.
Daftar Pustaka:
https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3043584/potret-kehidupan-orang-orang-pedalaman-papua
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masih banyak sekali suku-suku dan desa-desa di Indonesia yang belum
terjamah pemerintah Indonesia. Kehidupan yang jauh dari kata sejahtera tidak
menjadi halangan para penduduk pelosok negeri untuk tetap bertahan hidup. Dengan keterbatasan dan kesulitan yang mereka
alami, tidak menjadi penghambat mereka bisa bersyukur dan mengasihi satu sama
lain. Saling menyayangi dan hidup rukun dengan sesama.
B. Tinjauan Pustaka
1. Manusia
Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bias hidup sendiri dan saling
bergantung satu sama lain. Baik dengan alam maupun lingkungan sekitar. Sifat dan
perilaku manusia timbul karena adanya dorongan atau factor dari lingkungan
mereka sendiri. Mungkin pada dasarnya yang membentuk kepribadian diri masing-masing
adalah lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, teman, atau keadaan sekitar,
jadi karena itu menjadi alasan manusia memiliki kepribadian yanbg berbeda dan
sangat saling bergantung satu sama lain.
2. Cinta Kasih
Dalam hidupnya manusia juga membutuhkan cinta dan kasih sayang dalam
hidupnya. Bias dibayangkan bagaimana jika tidak ada cinta dan kasih saying dalam
kehidupan manusa. Cinta dan kasih saying tidak hanya didapatkan dari lawan
jenis atau pasangan saja. Tapi dari Tuhan, orang tua, saudara, guru sahabat
serta lainnya.
3. Penderitaan
Dalam hidup atau saat memberikan cinta kasih kepada orang yang disayang
pasti aka nada pegorbanan. Tidak hanya cinta dan kasih sayang yang manusia alami
dalam hidupnya, tetapi dalam hidup pasti ada sebuah penderitaan yang dirasakan.
Baik itu faktor keluarga, ekonomi, kesenjangan sosial ataupun tekanan dari
sekitar.
BAB II
PEMBAHASAN
Keluarga merupakan
faktor terpenting dalam kehidupan manusia, karena keluarga adalah orang yang
akan selalu ada untuk manusia itu sendiri dan rela mengorbankan apapun untuk
kebahagian yang ingin dicapai keluarga.
Seperti sebuah
keluarga di suatu pedalaman Indonesia ini. Hidup jauh dari keramaian kota tapi
tidak mematahkan semangat hidup mereka. Mereka saling mengasihi satu sama lain.
Tipikal keluarga pada umumnya. sang ayah bekerja, rumah dan anak diurusi oleh
sang ibu, serta anak sekolah dan bermain diluar hinga larut.
Lauk-pauk merupakan
hal yang mewah pada desa tersebut. Sehari hari penduduk desa bisa hanya makan
singkong dan pisang rebus saja. Jika ada acara khusus atau ada uang berlebih
maka lauk-pauk menjadi menu utama, atau penduduk tersebut akan memotong
binatang peliharaannya. Dengan keadaan keluarga tersebut yang pas-pasan mereka
tetap mengasihi satu sama lain.
Mengundang sang
guru yang mengajar anaknya untuk makan Bersama keluarga tersebut menjadi rutinitas
mingguan. Dengan keterbatasan dan kekurangan, keluarga tersebut masi bisa berbagi
dengan mengundang guru dari sang anak untuk makan bersama sebagai tanda terima
kasih telah mengajar disana. Dalam kekurangan dan keterbatasan keluarga ini
masi bisa belajar untuk mensyukuri hidup.
Melihat lebih
dalam di pedalaman Indonesia, kelarga tersebut masih sangat beruntung. Karena
masih ada pasokan listrik, sekolah, puskesmas. Tidak seperti sebuah desa di
pedalaman papua, yaitu desa Ugimba. Meskipun telah ditetapkan sebagai desa
pariwisata oleh metri pariwisata terlebih dahulu. Tapi keadaan desa ini masih
menyedihkan, jangankan sinyal ponsel, listrik, rumah sakit, bahkan jalan
beraspal pun belum ada. Meskipun ada sekolah, tetapi hanya mengajarkan Bahasa Indonesia
dan juga calistung (membaca, menulis menghitung).
Sungguh rasanya
seperti desa terisolasi. Jika ada seseorang yang sakit, maka penduduk desa
tersebut harus berjalan sejauh 20km dari desa tersebut dikarenakan klinik desa
tersebut sudah tidak berjalan, tidak ada dokter, kaca pecah. Jangan memikirkan penduduk
desa tersebut memakai koteka, karena mereka sudah memakai baju yang didapat
dari kota terdekat dari desa itu. Itupin satu baju saja sudah cukup.
Sedangkan kehidupan
mereka sehari-hari. Para wanita di desa Ugimba sehari-hari bekerja mengurus lading
dan menanam sayur mayur, seperti kol, kedelai dan baya. Mereka pun mengurus
makanan untuk keluarga termasuk mengambil air kesungai.
Sedangkan para
pria ikut bantu-bantu membereskan tanah untuk bercocok tanam. Kemudian mereka
pergi berburu ke hutan untuk makan. Berberu hewan, seperti kuskus dan lainnya.
Dengan tidak
adanya listrik di desa Ugimba, malampun sangat gelap dan tidak ada yang beani
keluar.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kehidupan orang pedalaman di Indonesia masih sangat sangat sederhana. Tidak
ada jangkauan internet yang saat ini sangat diperlukan dimanapun, tidak ada jalan,
sekolah terbatas, klinik jauh.
Tapi hal-hal tersebut tidak menjadikan itu halangan untuk saling menyayangi,
mengayomi dan berbagi terhadap sesame. Mereka mengajarkan kita untuk bahagia dan
bersyukur dengan kesederhanaan yang kita miliki.
B. SARAN
Pedalaman Indonesia masih banyak yang belum terjamah pemerintah. Sebaiknya
pemerintah juga lebih memerhatikan orang orang di pedalaman. Tidak hanya di pusat
kota saja. Tetapi seperti suku baduy, orang orang desa Ugimba. Merekapun tetap merupakan
rakyat Indonesia jadi lebih baik jika
mereka mendapat keadilan yang sama dengan orang Indonesia yang lain.
Pemanfaatan desa Ugimba sebagai tempat pariwisata sebaiknya lebih
deitingkatkan, karena jika masayarakat banyak tahu tentang desa tersebut, kemungkinan
banyak masyarakat yang berdatangan dan bisa jadi pemerintah lebih peduli dengan
keadaan desa tersebut yang jauh dari kata sejahtera.
Daftar Pustaka:
https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3043584/potret-kehidupan-orang-orang-pedalaman-papua

