Sabtu, 02 Desember 2017

Kehidupan Manusai di Pedalaman

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang

Masih banyak sekali suku-suku dan desa-desa di Indonesia yang belum terjamah pemerintah Indonesia. Kehidupan yang jauh dari kata sejahtera tidak menjadi halangan para penduduk pelosok negeri untuk tetap bertahan hidup.  Dengan keterbatasan dan kesulitan yang mereka alami, tidak menjadi penghambat mereka bisa bersyukur dan mengasihi satu sama lain. Saling menyayangi dan hidup rukun dengan sesama.

B.      Tinjauan Pustaka

      1.       Manusia
Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bias hidup sendiri dan saling bergantung satu sama lain. Baik dengan alam maupun lingkungan sekitar. Sifat dan perilaku manusia timbul karena adanya dorongan atau factor dari lingkungan mereka sendiri. Mungkin pada dasarnya yang membentuk kepribadian diri masing-masing adalah lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, teman, atau keadaan sekitar, jadi karena itu menjadi alasan manusia memiliki kepribadian yanbg berbeda dan sangat saling bergantung satu sama lain.

      2.       Cinta Kasih
Dalam hidupnya manusia juga membutuhkan cinta dan kasih sayang dalam hidupnya. Bias dibayangkan bagaimana jika tidak ada cinta dan kasih saying dalam kehidupan manusa. Cinta dan kasih saying tidak hanya didapatkan dari lawan jenis atau pasangan saja. Tapi dari Tuhan, orang tua, saudara, guru sahabat serta lainnya.

      3.       Penderitaan
Dalam hidup atau saat memberikan cinta kasih kepada orang yang disayang pasti aka nada pegorbanan. Tidak hanya cinta dan kasih sayang yang manusia alami dalam hidupnya, tetapi dalam hidup pasti ada sebuah penderitaan yang dirasakan. Baik itu faktor keluarga, ekonomi, kesenjangan sosial ataupun tekanan dari sekitar.



BAB II
PEMBAHASAN


Keluarga merupakan faktor terpenting dalam kehidupan manusia, karena keluarga adalah orang yang akan selalu ada untuk manusia itu sendiri dan rela mengorbankan apapun untuk kebahagian yang ingin dicapai keluarga.
Seperti sebuah keluarga di suatu pedalaman Indonesia ini. Hidup jauh dari keramaian kota tapi tidak mematahkan semangat hidup mereka. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Tipikal keluarga pada umumnya. sang ayah bekerja, rumah dan anak diurusi oleh sang ibu, serta anak sekolah dan bermain diluar hinga larut.

Lauk-pauk merupakan hal yang mewah pada desa tersebut. Sehari hari penduduk desa bisa hanya makan singkong dan pisang rebus saja. Jika ada acara khusus atau ada uang berlebih maka lauk-pauk menjadi menu utama, atau penduduk tersebut akan memotong binatang peliharaannya. Dengan keadaan keluarga tersebut yang pas-pasan mereka tetap mengasihi satu sama lain. Mengundang sang guru yang mengajar anaknya untuk makan Bersama keluarga tersebut menjadi rutinitas mingguan. Dengan keterbatasan dan kekurangan, keluarga tersebut masi bisa berbagi dengan mengundang guru dari sang anak untuk makan bersama sebagai tanda terima kasih telah mengajar disana. Dalam kekurangan dan keterbatasan keluarga ini masi bisa belajar untuk mensyukuri hidup.



Melihat lebih dalam di pedalaman Indonesia, kelarga tersebut masih sangat beruntung. Karena masih ada pasokan listrik, sekolah, puskesmas. Tidak seperti sebuah desa di pedalaman papua, yaitu desa Ugimba. Meskipun telah ditetapkan sebagai desa pariwisata oleh metri pariwisata terlebih dahulu. Tapi keadaan desa ini masih menyedihkan, jangankan sinyal ponsel, listrik, rumah sakit, bahkan jalan beraspal pun belum ada. Meskipun ada sekolah, tetapi hanya mengajarkan Bahasa Indonesia dan juga calistung (membaca, menulis menghitung).

Sungguh rasanya seperti desa terisolasi. Jika ada seseorang yang sakit, maka penduduk desa tersebut harus berjalan sejauh 20km dari desa tersebut dikarenakan klinik desa tersebut sudah tidak berjalan, tidak ada dokter, kaca pecah. Jangan memikirkan penduduk desa tersebut memakai koteka, karena mereka sudah memakai baju yang didapat dari kota terdekat dari desa itu. Itupin satu baju saja sudah cukup.



Sedangkan kehidupan mereka sehari-hari. Para wanita di desa Ugimba sehari-hari bekerja mengurus lading dan menanam sayur mayur, seperti kol, kedelai dan baya. Mereka pun mengurus makanan untuk keluarga termasuk mengambil air kesungai.
Sedangkan para pria ikut bantu-bantu membereskan tanah untuk bercocok tanam. Kemudian mereka pergi berburu ke hutan untuk makan. Berberu hewan, seperti kuskus dan lainnya.

Dengan tidak adanya listrik di desa Ugimba, malampun sangat gelap dan tidak ada yang beani keluar saat malam. tanpa listrik, jalan beraspal, masih seperti kehidupan yang primitif dijaman yang sudah maju seperti sekarang ini. 




BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN

Kehidupan orang pedalaman di Indonesia masih sangat sangat sederhana. Tidak ada jangkauan internet yang saat ini sangat diperlukan dimanapun, tidak ada jalan, sekolah terbatas, klinik jauh.
Tapi hal-hal tersebut tidak menjadikan itu halangan untuk saling menyayangi, mengayomi dan berbagi terhadap sesame. Mereka mengajarkan kita untuk bahagia dan bersyukur dengan kesederhanaan yang kita miliki.

B.      SARAN

Pedalaman Indonesia masih banyak yang belum terjamah pemerintah. Sebaiknya pemerintah juga lebih memerhatikan orang orang di pedalaman. Tidak hanya di pusat kota saja. Tetapi seperti suku baduy, orang orang desa Ugimba. Merekapun tetap merupakan rakyat Indonesia jadi lebih baik  jika mereka mendapat keadilan yang sama dengan orang Indonesia yang lain.
Pemanfaatan desa Ugimba sebagai tempat pariwisata sebaiknya lebih deitingkatkan, karena jika masayarakat banyak tahu tentang desa tersebut, kemungkinan banyak masyarakat yang berdatangan dan bisa jadi pemerintah lebih peduli dengan keadaan desa tersebut yang jauh dari kata sejahtera.



Daftar Pustaka:




PENDAHULUAN

A.      Latar belakang

Masih banyak sekali suku-suku dan desa-desa di Indonesia yang belum terjamah pemerintah Indonesia. Kehidupan yang jauh dari kata sejahtera tidak menjadi halangan para penduduk pelosok negeri untuk tetap bertahan hidup.  Dengan keterbatasan dan kesulitan yang mereka alami, tidak menjadi penghambat mereka bisa bersyukur dan mengasihi satu sama lain. Saling menyayangi dan hidup rukun dengan sesama.

B.      Tinjauan Pustaka

1.       Manusia
Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bias hidup sendiri dan saling bergantung satu sama lain. Baik dengan alam maupun lingkungan sekitar. Sifat dan perilaku manusia timbul karena adanya dorongan atau factor dari lingkungan mereka sendiri. Mungkin pada dasarnya yang membentuk kepribadian diri masing-masing adalah lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, teman, atau keadaan sekitar, jadi karena itu menjadi alasan manusia memiliki kepribadian yanbg berbeda dan sangat saling bergantung satu sama lain.

2.       Cinta Kasih
Dalam hidupnya manusia juga membutuhkan cinta dan kasih sayang dalam hidupnya. Bias dibayangkan bagaimana jika tidak ada cinta dan kasih saying dalam kehidupan manusa. Cinta dan kasih saying tidak hanya didapatkan dari lawan jenis atau pasangan saja. Tapi dari Tuhan, orang tua, saudara, guru sahabat serta lainnya.

3.       Penderitaan
Dalam hidup atau saat memberikan cinta kasih kepada orang yang disayang pasti aka nada pegorbanan. Tidak hanya cinta dan kasih sayang yang manusia alami dalam hidupnya, tetapi dalam hidup pasti ada sebuah penderitaan yang dirasakan. Baik itu faktor keluarga, ekonomi, kesenjangan sosial ataupun tekanan dari sekitar.

BAB II
PEMBAHASAN
Keluarga merupakan faktor terpenting dalam kehidupan manusia, karena keluarga adalah orang yang akan selalu ada untuk manusia itu sendiri dan rela mengorbankan apapun untuk kebahagian yang ingin dicapai keluarga.
Seperti sebuah keluarga di suatu pedalaman Indonesia ini. Hidup jauh dari keramaian kota tapi tidak mematahkan semangat hidup mereka. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Tipikal keluarga pada umumnya. sang ayah bekerja, rumah dan anak diurusi oleh sang ibu, serta anak sekolah dan bermain diluar hinga larut.
Lauk-pauk merupakan hal yang mewah pada desa tersebut. Sehari hari penduduk desa bisa hanya makan singkong dan pisang rebus saja. Jika ada acara khusus atau ada uang berlebih maka lauk-pauk menjadi menu utama, atau penduduk tersebut akan memotong binatang peliharaannya. Dengan keadaan keluarga tersebut yang pas-pasan mereka tetap mengasihi satu sama lain.
Mengundang sang guru yang mengajar anaknya untuk makan Bersama keluarga tersebut menjadi rutinitas mingguan. Dengan keterbatasan dan kekurangan, keluarga tersebut masi bisa berbagi dengan mengundang guru dari sang anak untuk makan bersama sebagai tanda terima kasih telah mengajar disana. Dalam kekurangan dan keterbatasan keluarga ini masi bisa belajar untuk mensyukuri hidup.
Melihat lebih dalam di pedalaman Indonesia, kelarga tersebut masih sangat beruntung. Karena masih ada pasokan listrik, sekolah, puskesmas. Tidak seperti sebuah desa di pedalaman papua, yaitu desa Ugimba. Meskipun telah ditetapkan sebagai desa pariwisata oleh metri pariwisata terlebih dahulu. Tapi keadaan desa ini masih menyedihkan, jangankan sinyal ponsel, listrik, rumah sakit, bahkan jalan beraspal pun belum ada. Meskipun ada sekolah, tetapi hanya mengajarkan Bahasa Indonesia dan juga calistung (membaca, menulis menghitung).
Sungguh rasanya seperti desa terisolasi. Jika ada seseorang yang sakit, maka penduduk desa tersebut harus berjalan sejauh 20km dari desa tersebut dikarenakan klinik desa tersebut sudah tidak berjalan, tidak ada dokter, kaca pecah. Jangan memikirkan penduduk desa tersebut memakai koteka, karena mereka sudah memakai baju yang didapat dari kota terdekat dari desa itu. Itupin satu baju saja sudah cukup.
Sedangkan kehidupan mereka sehari-hari. Para wanita di desa Ugimba sehari-hari bekerja mengurus lading dan menanam sayur mayur, seperti kol, kedelai dan baya. Mereka pun mengurus makanan untuk keluarga termasuk mengambil air kesungai.
Sedangkan para pria ikut bantu-bantu membereskan tanah untuk bercocok tanam. Kemudian mereka pergi berburu ke hutan untuk makan. Berberu hewan, seperti kuskus dan lainnya.
Dengan tidak adanya listrik di desa Ugimba, malampun sangat gelap dan tidak ada yang beani keluar.
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN

Kehidupan orang pedalaman di Indonesia masih sangat sangat sederhana. Tidak ada jangkauan internet yang saat ini sangat diperlukan dimanapun, tidak ada jalan, sekolah terbatas, klinik jauh.
Tapi hal-hal tersebut tidak menjadikan itu halangan untuk saling menyayangi, mengayomi dan berbagi terhadap sesame. Mereka mengajarkan kita untuk bahagia dan bersyukur dengan kesederhanaan yang kita miliki.
B.      SARAN
Pedalaman Indonesia masih banyak yang belum terjamah pemerintah. Sebaiknya pemerintah juga lebih memerhatikan orang orang di pedalaman. Tidak hanya di pusat kota saja. Tetapi seperti suku baduy, orang orang desa Ugimba. Merekapun tetap merupakan rakyat Indonesia jadi lebih baik  jika mereka mendapat keadilan yang sama dengan orang Indonesia yang lain.
Pemanfaatan desa Ugimba sebagai tempat pariwisata sebaiknya lebih deitingkatkan, karena jika masayarakat banyak tahu tentang desa tersebut, kemungkinan banyak masyarakat yang berdatangan dan bisa jadi pemerintah lebih peduli dengan keadaan desa tersebut yang jauh dari kata sejahtera.



Daftar Pustaka:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar